Rabu, 26 Maret 2014



KONDISI PEREKONOMIAN INDONESIA PADA MASA PEMERINTAHAN SBY

Kondisi perekonomian Indonesia pada masa pemerintahan SBY mengalami perkembangan yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010 seiring pemulihan ekonomi dunia pasca krisis global yang terjadi sepanjang 2008 hingga 2009.Terbukti, perekonomian Indonesia mampu bertahan dari ancaman pengaruh krisis ekonomi dan finansial yang terjadi di zona Eropa. Kinerja perekonomian Indonesia akan terus bertambah baik, tapi harus disesuaikan dengan kondisi global yang sedang bergejolak. Ekonomi Indonesia akan terus berkembang, apalagi pasar finansial, walaupun sempat terpengaruh krisis, tetapi telah membuktikan mampu bertahan. Sementara itu, pemulihan ekonomi global berdampak positif terhadap perkembangan sektor eksternal perekonomian Indonesia.Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berhasil mendobrak dan menjadi katarsis terhadap kebuntuan tersebut. Korupsi dan kemiskinan tetap menjadi masalah di Indonesia. Namun setelah beberapa tahun berada dalam kepemimpinan nasional yang tidak menentu, SBY telah berhasil menciptakan kestabilan politik dan ekonomi di Indonesia.
Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian Indonesia adalah efektifnya kebijakan pemerintah yang berfokus pada disiplin fiskal yang tinggi dan pengurangan utang Negara.Perkembangan yang terjadi dalam lima tahun terakhir membawa perubahan yang signifikan terhadap persepsi dunia mengenai Indonesia. Namun masalah-masalah besar lain masih tetap ada. Pertama, pertumbuhan makroekonomi yang pesat belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara menyeluruh. Walaupun Jakarta identik dengan vitalitas ekonominya yang tinggi dan kota-kota besar lain di Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat, masih banyak warga Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Sistem Ekonomi Pancasila adalah sistem ekonomi pasar dengan 5 ciri sebagai berikut:

Ø  Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial, dan moral;
Ø  Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial;
Ø  Semangat nasionalisme ekonomi; dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat, tangguh, dan mandiri;
Ø  Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan; koperasi dan usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat;
Ø  Keseimbangan yang harmonis, efisien, dan adil, antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas, bebas, dan bertanggung jawab, menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.Tujuan setiap kebijakan ekonominya adalah makin mengurangi kebijakan yang menimbulkan ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial sehingga dapat benar-benar terwujud suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Inilah misi Ekonomi Pancasila. Pemerintah  SBY-Kalla harus tidak gentar menghadapi oposisi atau tentangan yang menghalangi diterapkannya sistem ekonomi Pancasila

Sasaran pembangunan

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan tahun 2013 dan 2014 penting dan menentukan dalam agenda pembangunan. "Utamanya pembangunan ekonomi," kata SBY, saat membuka rapat kabinet paripurna tentang rencana kerja pemerintah (RKP) dan pagu indikatif 2014, di kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 4 April 2013.
SBY mengharapkan bisa menjaga perekonomian tetap baik selama dua tahun pamungkas masa bakti kabinet pimpinannya. Ia memerintahkan jajarannya fokus dalam mencapai sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan target pembangunan selama 2013-2014.
Setiap perencanaan, kebijakan dasar, pilihan kebijakan, RKP, serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara harus dibuat dengan benar. "Kalau benar semuanya, manakala ada dinamika dan perkembangan baru, Insya Allah bisa mengelolanya," kata SBY.
SBY juga mengingatkan perekonomian perlu dijaga dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang perlu diwaspadai adalah proses Pemilu 2014 yang dimulai April ini. "Di satu sisi, kita harus sungguh menjaga perekonomian kita," ucap SBY. "Di sisi lain, harus mengelola politik dalam negeri karena memang ada kaitannya dengan menyukseskan pembangunan, utamanya pembangunan ekonomi."
Sebelumnya, SBY kerap mengingatkan bahwa tahun 2013 dan 2014 merupakan tahun politik. Sehingga harus benar-benar dijaga dari beraneka potensi kegaduhan yang bisa berdampak pada ekonomi.
Sedangkan faktor eksternal, di antaranya resesi perekonomian dunia yang berpotensi menekan perekonomian Indonesia. Sehingga seluruh elemen pemerintahan harus bisa mengelola perekonomian, dari aspek pertumbuhan, stabilitas harga, penciptaan lapangan kerja, hingga pengurangan kemiskinan.

Prioritas

DENPASAR, BALI — Dalam pidatonya saat membuka APEC CEO Summit atau Pertemuan CEO APEC di Nusa Dua Bali, Minggu pagi (6/10), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan tiga prioritas yang ditetapkan pemerintah Indonesia.
Prioritas pertama menurut Presiden SBY adalah mewujudkan pencapaian Deklarasi Bogor. Dalam mengimplementasikan Deklarasi Bogor, negara-negara APEC telah meraih kemajuan yang pesat, yakni mengurangi tarif dari 16,9 persen di tahun 1989 menjadi 5,7 persen di 2011. Transportasi yang buruk dan prosedur bea cukai yang panjang masih menjadi tantangan pada perdagangan.
Mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan merupakan prioritas kedua, seperti yang disampaikan presiden SBY.  “Populasi global telah tumbuh dari hanya lebih dari lima setengah miliar orang pada tahun 1994 menjadi lebih dari tujuh miliar saat ini. Pada 2045 akan ada 9 miliar orang di seluruh dunia. Dan banyak dari peningkatan populasi akan datang dari kawasan Asia Pasifik, menempatkan beban yang besar pada pasokan energi, makanan dan air bagi rakyat kita,” kata Presiden SBY.
Prioritas ketiga menurut Presiden SBY adalah mempromosikan Konektivitas. Presiden SBY yakin bahwa APEC memiliki peran penting bagi pertumbuhan ekonomi global. Pada saat ini, ekonomi APEC mencapai 54 persen dari produk domestik bruto global dan 44 persen dari perdagangan global. Apalagi perdagangan telah tumbuh hampir tujuh kali lipat sejak tahun 1989 , mencapai lebih dari 11 triliun dolar AS pada 2011.

“Dalam 25 tahun terakhir , tarif rata-rata di APEC telah menurun hampir 70 persen . Biaya melakukan bisnis lintas batas menurun dua putaran berturut-turut dari 5 persen penurunan tarif : mengakibatkan hampir 59 miliar dolar AS dari penghematan untuk bisnis,” jelas Presiden SBY.

Ketua Dewan Penasihat Bisnis APEC (ABAC) Wisnu Wardhana mengusulkan kepada pemimpin APEC untuk focus membangunan konektivitas guna mewujukan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan di Asia-Pasifik. Selain itu pembangunan konektivitas juga harus ditunjang dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai.

“Kita juga punya isu dalam membangun konektivitas itu infrastruktur kita ini sorted, tidak di Indonesia saja tetapi di 21 negara ekonomi APEC, jadi itu salah satu isu yang penting, kedua kita juga bicara inklusi keuangan. Disini kita juga bicara bagaimana kawasan Asia-Pasifik ini mampu kedepan mampu menjadi wilayah penggerak pertumbuhan ekonomi dunia,” kata Wisnu Wardhana.

APEC CEO Summit dihadiri oleh sekitar seribu CEO dari berbagai perusahaan nasional maupun kelas dunia. Dalam rangkaian pertemuan itu, CEO se-Asia Pasifik mendukung agar para pemimpin APEC dapat menjalankan agenda liberalisasi yang termaktub dalam Deklarasi Bogor.

Sektor yang menjadi prioritas

JAKARTA- Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo B Sulisto, di Jakarta, Rabu mengungkapkan, tiga sektor yang harus menjadi prioritas pemerintah guna meningkatkan kemitraan pemerintah dan swasta.

"Setidaknya terdapat tiga sektor prioritas demi memaksimalkan kemitraan pemerintah dan swasta (public-private partnership atau PPP)," kata Suryo dalam acara Diskusi Kemitraan Strategis antara Pemerintah dan Sektor Swasta.

Sektor pertama adalah sektor energi yang menurut Suryo dalam acara yang juga dihadiri oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Armida S Alisjahbana itu, lebih banyak dipasok ke luar negeri.

"Indonesia yang memiliki beragam jenis energi dengan jumlah yang melimpah namun belum dapat secara mandiri mencukupi kebutuhan energinya, karena sebagian besar produksi energi Indonesia diekspor ke luar negeri," kata Suryo.
  
Ia mengakui bahwa perusahaannya, Satmarindo Group, yang juga bergerak dalam produksi batubara juga lebih banyak mengekspor batubara dibanding untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Menurut catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral produksi batubara Indonesia pada 2009 berjumlah 226,1 juta ton dengan konsumsi hanya 38,2 juta ton, sehingga Indonesia mengekspor 152,9 juta ton batubara.

Sementara untuk konsumsi minyak bumi Indonesia pada 2009 adalah sebesar 256,6 juta barel dan produksi mencapai 337,2 juta barel namun produksi tersebut diekspor hingga 117,2 juta barel sehingga Indonesia harus mengimpor 86,6 juta barel.

"Padahal seharusnya pemerintah harus memberikan prioritas kepada kebutuhan domestik," tegas Suryo.

Sektor lainnya adalah sektor pangan karena Indonesia mengimpor kacang kedelai, gula, jagung, dan jenis pangan lain dalam jumlah besar yang sebenarnya dapat diproduksi di dalam negeri.

"Indonesia memiliki tanah yang luas dan subur, namun kenapa harus mengimpor produk pangan dalam jumlah besar?" tanyanya.

Ia memberikan contoh minimnya produksi susu segar Indonesia di Indonesia yang hanya mencapai enam juta ton susu per tahun. "Bila jumlah tersebut dibagi dengan total penduduk Indonesia, berarti setiap penduduk Indonesia hanya mendapat 2 tetes susu," jelasnya.

Konsumsi daging masyarakat Indonesia juga terbilang rendah yaitu hanya mencapai 2,4 Kg/orang/tahun terpaut jauh dengan konsumsi daging di Jerman yang mencapai 50 Kg/orang/tahun atau bahkan dengan konsumsi di Singapura atau Malaysia sebesar 15 Kg/orang/tahun.

"Dengan kurangnya asupan gizi, sumber daya manusia Indonesia menjadi kurang dapat bersaing," tambahnya.

Sementara sektor ketiga adalah sektor infrastruktur yang juga disetujui oleh ketua Bappenas sebagai sektor prioritas untuk dikembangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Indonesia 2010-2014.

Lebih lanjut menurut Suryo, demi menggenjot industri di Indonesia, Kadin akan melakukan kerja sama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

"Kadin akan kembali menandatangai kesepakatan dengan BKPM yang dulu pernah dilakukan semasa BKPM dipimpin oleh Ginandjar Kartasasmita guna membawa investor potensial ke Indonesia," jelasnya.

Hasil pembangunan ekonomi

menggembirakan. Angka kemiskinan dan pengangguran diklaim terus menurun drastis. Utang luar negeri semakin sedikit sementara pertumbuhan ekonomi makin melonjak.

"Namun, pada faktanya, kesejahteraan sosial yang seharusnya menjadi target akhir sebuah pembangunan masih jauh dari harapan," demikian disampaikan Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan dalam seminar bertajuk 'Pembangunan Minus Kesejahteraan' di Jakarta, (Senin, 31/1).

Kata Syahganda, terlepas dari capaian pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah negara-negara Asean, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan apalagi dibandingkan Cina (9,8 persen), pertanyaan yang menggugah kita adalah apakah pertumbuhan ini mempunyai indikasi yang penting bagi kesejahteraan rakyat?

"Jargon pembangunan yang disampaikan rezim SBY yakni Pro-Growth, Pro Job, Pro Poor dan Pro Environment, kurang memperlihatkan capaiannya," ujarnya.

 Daftar Pustaka

http://www.ekonomikerakyatan.ugm.ac.id/
http://www.rmol.co/
http://www.voaindonesia.com/
http://www.investor.co.id/