REZKI FEBRI
RAMADHAN
3EB23
27213530
PENGERTIAN
RESENSI
Secara
etimologi, resensi berasal dari bahasa latin, dari kata kerja revidere atau
recensere yang memilik arti melihat kembali, menimbang atau menilai. Dalam
bahasa Belanda dikenal dengan recensie sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal
dengan istilah review
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonsia, resensi diartikan sebagai pertimbangan atau
pembicaraan tentang buku dan sebagainya. Secara garis besar resensi diartikan
sebagai kegiatan untuk mengulas atau menilai sebuah hasil karya baik itu berupa
buku, novel, maupun film dengan cara memaparkan data-data, sinopsis, dan
kritikan terhadap karya tersebut.
A. TUJUAN RESENSI
Adapun
penulisan resensi ditujukan dengan maksud sebagai berikut.
Ø Membantu pembaca mengetahui
gambaran dan penilaian umum dari sebuah buku atau hasil karya lainnya secara
ringkas
Ø Mengetahui kelebihan dan kelemahan buku yang
diresensi.
Ø Mengetahui latar
belakang dan alasan buku tersebut diterbitkan.
Ø Menguji kualitas buku dengan membandingkan
terhadap karya dari penulis yang sama atau penulis lainnya
Ø Memberi masukan kepada penulis buku berupa
kritik dan saran terhadap cara penulisan, isi, dan substansi buku.
B. JENIS-JENIS RESENSI
Secara
garis besar resensi dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
Ø Resensi Informatif,
yaitu resensi yang hanya menyampaikan isi dari resensi secara singkat dan umum
dari keseluruhan isi buku.
Ø Resensi Deskriptif, yaitu resensi yang
membahas secara detail pada tiap bagian atau babnya.
Ø Resensi Kritis, yaitu
resensi yang berbentuk ulasan detail dengan metodologi ilmu pengetahuan
tertentu. Isi dari resensi biasanya kritis dan objektif dalam menilai isi buku.
Namun,
ketiga jenis resensi di atas tidak baku karena bisa saja dalam sebuah resensi
ketiganya diterapkan secara bersamaan.
C. UNSUR-UNSUR RESENSI
Dalam
membuat resensi, terdapat unsure-unsur yang harus dipenuhi agar resensi yang
dibuat menjadi jelas dan berkualitas. Berikut ini adalah beberapa unsur yang
harus ada dalam pembuatan resensi.
Ø Judul resensi
Judul
resensi harus memiliki keselarasan dengan isi resensi yang dibuat. Judul yang
menarik juga akan memberi nilai lebih pada sebuah resensi.
Ø Menyusun data buku
Ø Judul Buku
Ø Pengarang
Ø Penerbit
Ø Tahun terbit beserta cetakannya
Ø Dimensi buku
Ø Harga buku
Isi
resensi buku
Isi
resensi buku memuat tentang sinopsis, ulasan singkat buku dengan kutipan
secukupnya, keunggulan dan kelemahan buku, rumusan kerangka buku dan penggunan
bahasa.
Pada bagian penutup biasanya berisi alasan kenapa
buku tersebut ditulis dan kepada siapa buku tersebut ditujukan.
E. TAHAP PENULISAN RESENSI
Berikut
ini akan dijelaskan tahap-tahap dalam penulisan sebuah resensi buku.
Ø Tahap Persiapan
Dalam
tahap ini, hal yang perlu dilakukan antara lain: memilih jenis buku yang akan
diresensi, buku tersebut adalah buku-buku baru, dan membuat anatomi buku.
Ø Tahap Pengerjaan
a. Membaca dengan detail dan mencatat
hal-hal penting. Sebelum membuat resensi, bacalah terlebih dahulu buku yang
akan diresensi hingga tuntas lalu mencatat kutipan dan kata-kata penting di
dalamnya.
b. Membuat isi resensi, diantaranya:
- Membuat informasi umum tentang buku
yang diresensi.
- Menentukan judul resensi.
- Membuat ringkasan secara garis besar.
- Memberikan penilaian buku.
- Menonjolkan sisi lain dari buku yang
diresensi.
- Mengulas manfaat buku tersebut bagi
pembaca.
- Penilaian dari segi kelengkapan
karya, EYD dan sistematika resensi.
Resensi Buku London

Judul : London: Angel
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : Cetakan pertama, 2013
Tebal : x+ 330 halaman
ISBN : 979-780-653-7
Well, aku
baru selesai baca novel London karya Windry Ramadhina. Sebenernya ini
adalah buku kedua Windry yang aku baca. Sebelumnya, aku cukup terpukau dengan
novel Montase. Ceritanya bener-bener mengalun, bikin tenggelam dalam lautan
kegalauan. Bhak! :”) Makanya aku penasaran dengan karya-karya Windry yang
lainnya.
Kembali ke novel London. Novel itu
bercerita tentang persahabatan antara Gilang dan Ning. Awal cerita memang
terkesan klise. Banyak banget cerita tentang sahabat jadi cinta. Ning, adalah
sahabat Gilang sejak kecil. Mereka tinggal bersebelahan, jendela kamar mereka
saling berhadapan, semacam video klip You Belong With Menya Taylor
Swift gitu deh. Seiring berjalannya waktu, mereka tumbuh dewasa. Gilang
yang belajar teknik mati-matian, akhirnya memiliki takdir di bidang sastra. Dia
bekerja sebagai editor sekaligus penulis. Dia memiliki empat sahabat, yaitu
Hyde, Dee, Dum, dan Brutus. Brutus adalah teman sekamar indekosnya.
Awal cerita, mereka sedang berada di pub.
Layaknya orang dewasa, perbincangan tentang pernikahan selalu jadi topik
pembicaraan yang nggak ada habisnya. Mereka saling menanyakan pasangan. Hyde
akan menikah dalam waktu dekat. Gilang teringat Ning yang sekarang berada di
London. Ia meneruskan kuliah seni dan memutuskan untuk bekerja di sana.
Keempat sahabat Gilang menantangnya untuk menyusul Ning ke London. Semua
persiapan keberangkatan Gilang ke London disiapkan oleh mereka, termasuk
penginapan.
Pada saat penerbangan, ia duduk
berdampingan dengan seseorang yang sedang memperjuangkan cintanya juga. Gilang
menjulukinya V, karena dia mirip dengan V pada film V for Vendetta. V pergi ke
London untuk menyelamatkan pernikahannya yang nyaris hancur.
Gilang tiba di London saat musim hujan.
Semangatnya yang menggebu harus ditahan karena ternyata Ning tidak ada di
indekosnya ketika Gilang tiba. Menurut tetangganya, Ning suka pergi beberapa
hari, tapi dia pasti kembali. Gilang tak hilang arah, akhirnya ia memutuskan
untuk berkeliling London. Ed, pegawai restoran Medge merekomendasikan untuk
pergi naik London Eye, salah satu ikon kota London yang terkenal. Tiba di sana,
gerimis turun. Gilang baru menyadari bahwa ia phobia ketinggian, tetapi seorang
gadis misterius memberikannya sebuah payung merah. Gadis itu menarik Gilang
untuk naik London Eye. Gilang tak bisa menolak. Ketika mereka turun, hujan
mulai reda. Gilang berniat membeli kopi untuk mereka berdua. Namun ketika
kembali, gadis itu menghilang, hanya tertinggal payungnya saja. Gilang
menjulukinya Goldilocks.
Selebihnya cerita berlangsung monoton,
mungkin karena ingin mengekspos kota London, fokus cerita jadi agak kabur.
Ditengah-tengah cerita terlalu banyak memaparkan kota London tanpa menceritakan
kemana perginya Ning. Pembaca hanya diajak berputar-putar membahas kota London,
bahkan karya-karya sastranya juga. Tapi menurutku, sebagai anak sastra, itu
adalah hal yang bagus, kan jadi nambah pengetahuan hehe. Selain itu, penulis
juga bisa meramu kata dengan baik, jadi meski pun seolah-olah kita baca yellow
pages, tapi kita semakin penasaran sebenarnya kemana Ning dan siapa gadis
misterius itu.
Restoran Medge membuat Gilang betah, selain
sudah mengenal pemilik dan pelayannya dengan baik, di restoran tersebut
terdapat banyak buku. Salah satu pengunjung lainnya adalah Ayu, gadis asal
Indonesia. Ayu pemburu buku-buku sastra klasik.
Suatu hari Ning kembali, dia datang ke
restoran Medge dan bertemu dengan Gilang. Keduanya merasa senang. Ning
mengajaknya pergi ke galeri. Disana ia bertemu dengan Finn, seniman patung yang
sangat dikagumi oleh Ning. Gilang menangkap tatapan Ning bukan lagi tatapan
kekaguman, tapi tatapan cinta. Gilang meninggalkan Ning untuk melihat-lihat
souvenir. Hujan turun lagi. Ia melihat Goldilocks berada di kerumunan orang,
tetapi ketika ia mengejar, gadis itu menghilang. Gilang dikagetkan oleh
kehadiran V. Ia berniat meminjam payung merah yang dipakai oleh Gilang. V
berjanji akan mengembalikan payung itu dalam waktu beberapa menit, tapi setelah
ditunggu berjam-jam dia tak kembali.
Gilang berniat mengganti payung itu, dia
pergi ke sebuah toko payung. Pemilik toko bercerita tentang malaikat yang turun
ke bersama hujan. Gilang teringat pada Goldilocks. Setelah membeli payung
dengan harga selangit, V mengembalikan payung pada Gilang, ternyata payung
tersebut menjadi perantara sehingga V dan istrinya rujuk kembali. Gilang yang
awalnya pesimis takut ditolak Ning, jadi kembali bersemangat. Masalahnya, dulu
Gilang dan Ning bersahabat dengan seorang laki-laki, dia menyukai Ning. Tapi
ketika laki-laki itu menyatakan cinta, Ning malah menjauh. Gilang takut hal itu
terjadi padanya.
Ketakutan itu bikin Gilang kalaf, dia
mabuk. Di bar dia bertemu Mister Lowesley, rupanya Mister Lowesley juga lagi
galau, soalnya dia udah nunggu Madam Ellis bertahun-tahun, sampe umurnya
setengah abad. Haffff menunggu emang menyebalkan ya? :”) Meski pun udah tua,
Mister Lowesley punya nyali lebih besar dari Gilang. Dia ke restoran Medge
keesokan harinya dan bikin keributan. Setelah Mister Lowesley bikin kacau, dia
minta maaf pada Madam Ellis, tapi Madam Ellis tetap keras, hatinya tetap untuk
George (suaminya yang meninggal lima tahun lalu). Ceritanya Madam Eliis ngga
bisa move on.
Hujan turun lagi, Mister Lowesley pergi
entah kemana. Madam Ellis mulai khawatir, akhirnya Gilang mengantar Madam Ellis
menemui Mister Lowesley ke tempat bermainnya waktu kecil. Berkat payung merah
itu, Madam Ellis menerima cinta Mister Lowesley. Keyakinan Gilang akan cintanya
semakin kuat. Ia bertekad untuk menyatakan cintanya pada Ning. Awalnya Ning
ragu-ragu, tapi akhirnya dia menerima. Gilang merasa bersalah, ia tahu Ning
nggak cinta dia. Akhirnya Gilang nggak memaksakan lagi perasaannya. Cerita nggak
selesai sampe sana. Ada bagian terakhir sebelum epilog yang aku suka, yaitu pas
bagian Goldilocks. Goldilocks itu bernama Angel. Ada quotes favorit yang
akhirnya menyadarkan aku kalau semua orang berhak untuk bahagia dengan caranya
masing-masing.
“Tidak ada yang terenggut. Setiap orang
punya keajaiban cintanya sendiri. Kau hanya belum menemukannya.”
Cerita berakhir dengan bertemunya Gilang
dengan Ayu. Saat itu hujan turun, mereka harus pergi ke Heatrow, akhirnya
Gilang menawarkan memakai payung merah berdua. Sejak saat itu, Gilang merasa
nyaman berada di dekat Ayu. Sebenernya banyak pelajaran yang bisa kita ambil
dari novel ini. Pertama, tentang pentingnya persahabatan. Bukan persahabatan
Ning dan Gilang, tapi persahabatan Gilang dan keempat temannya. Mereka
benar-benar teman yang peduli. Kedua, tentang kesabaran. Penantian Mister
Lowesley yang panjang pasti dibarengi dengan kesabaran. Sekeras apapun hati
orang lain, jika kita tulus mencintainya seiring berjalannya waktu, hatinya
akan luluh juga. Lagi-lagi masalah waktu haha. Ya tinggal pilih aja, mau nunggu
bertahun-tahun dengan rindu yang menyiksa, atau pergi dan menemukan pengganti.
Selain kesabaran, yang ketiga adalah kesetiaan. Kesetiaan juga banyak
diajarkan oleh Mister Lowesley, dia memang penunggu yang tangguh.
Bacaan ini cocok buat yang baru ditinggal
orang yang disayang wkwkw. Ungkapanperpisahan adalah awal dari
pertemuan dibuktikan oleh novel ini. Sebenarnya kita tak perlu
khawatir, cara terbaik bukan memaksakan, tapi merelakan dia bahagia. Bukankah
kebahagiaan dia adalah kebahagiaanmu juga? Bullshit emang, tapi cuma keikhlasan
cara kita mengobati rasa kecewa.
Demikian artikel contoh resensi buku,
semoga berguna bagi pembaca sekalian.
