DKI jakarta
Kemiskinan
Perkembangan kemiskinan di Provinsi DKI Jakarta dalam kurun
waktu 2008-2013, secara absolutterjadi penurunan, jumlah penduduk miskin tahun
2013 (maret) 4297 jiwa atau menurun sebanyak 25.410 jiwa dari tahun 2008. Sementara untuk tingkat kemiskinan dari tahun
2008-2013 menurun sebesar 0,74 persen, dengan persentase kemiskinan tahun 2013
sebesar 3,55 persen atau masih didibawah persentase kemiskinan nasional
(11,37%).
Pengangguran
Jumlah pengangguran Terbuka di Provinsi DKI Jakarta pada
tahun 2013 (Februari) mencapai 513,2 ribu orang menurun dibanding tahun 2008
(580.5 ribu orang) atau berkurang sebanyak 67,3 ribu orang. Perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka
(TPT) dalam periode tahun 20082013 penurunan sebesar 2,22 persen, TPT DKI
Jakarta tahun 2013 sebesar 9,94 persen lebih rendah dibandingkan TPT tahun
sebelumnya. Namun kondisi TPT DKI Jakarta masih tergolong tinggi dibandingkan
terhadap rata-rata TPT nasional.
Sementara untuk TPT tahun 2012 terbesar terdapat di Kabupaten Adm.
Kep.Seribu (13,97%) dan terendah di Kota Jakarta Selatan (8,96 %)
Kesenjangan
DKI Jakarta memiliki tingkat ketimpangan yang tinggi bila
dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. Penelitian ini
bertujuan untuk menghitung tingkat ketimpangan wilayah di Provinsi DKI Jakarta,
membuktikan Hipotesis Kuznets, serta menganalisis pengaruh variabel independen
PDRB per kapita, investasi, aglomerasi, dan dummy desentralisasi fiskal
terhadap ketimpangan pembangunan wilayah di Provinsi DKI Jakarta dalam kurun
waktu 1995 sampai dengan 2008.
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang terdiri dari data runtut
waktu dari 1995 sampai dengan 2008 yang di peroleh dari Badan Pusat Statistik
(BPS) Provinsi DKI Jakarta, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Metode
analisis yang digunakan untuk penelitian ini adalah analisis statistik
deskriptif dan analisis regresi.
BANTEN
Kemiskinan
Jumlah penduduk miskin di Banten pada bulan September 2013
mencapai 682,71 ribu orang (5,89persen). Jika dibandingkan dengan jumlah
penduduk miskin pada Maret 2013, maka selama enam bulantersebut terjadi
peningkatan jumlah penduduk miskin sebesar 26,47 ribu orang (4,03 persen).
Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret 2013 - September 2013
penduduk miskin di daerah perkotaan bertambah sebesar 50,66 ribu orang (13,93
persen), sementara penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang sebesar 24,2
ribu orang (8,27 persen).
Pengangguran
Demikian disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Banten dalam
rilisnya yang disampaikan kepada wartawan kemarin. Syech Suhaimi Kepala BPS
Banten mengatakan bahwa, pada periode Agustus 2012 jumlah pengangguran terbuka
di Banten sebanyak 519,2 ribu orang dan menjadi 509,3 ribu orang dalam periode
Agustus 2013 atau turun sekitar 9,9 ribu orang. "Tingkat pengangguran
terbuka pada periode yang sama juga mengalami penurunan yaitu dari 10,13 persen
menjadi 9,90 persen atau turun sekitar 0,23 poin," katanya. Jumlah
angkatan kerja di Banten pada Agustus 2013 mencapai 5.146,3 ribu orang atau
meningkat sekitar 21,2 ribu orang bila dibanding angkatan kerja Agustus 2012,
yaitu sebesar 5.125,1 ribu orang. Sedangkan jumlah penduduk yang bekerja di
Banten pada Agustus 2013 mencapai 4.637,0 ribu orang atau bertambah sekitar
31,2 ribu orang bila dibanding keadaan pada Agustus 2012 sebesar 4.605,8 ribu
orang. Ia mengungkapkan,dalam periode satu tahun terakhir (Agustus 2012―Agustus
2013), jumlah penduduk yang bekerja mengalami kenaikan terutama di sektor
pertanian sebesar 92,3 ribu orang, sektor Industri 11,5 ribu orang.
Kesenjangan
Ketimpangan pada suatu wilayah atau antar memang merupakan
kondisi alamiah atau natural yang
terjadi. Menurut Sjafrizal (2012), terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi ketimpangan antar wilayah
yaitu 1) perbedaan sumber daya alam, 2)
faktor demografis termasuk kondisi tenaga kerja, 3) alokasi dana pembangunan antar wilayah baik investasi
pemerintah maupun investasi swasta, 4)
konsentrasi kegiatan ekonomi wilayah, dan 5) mobilitas barang dan jasa. Investasi merupakan faktor penting dalam
mendorong pertumbuhan ekonomi suatu
wilayah. Investasi dibagi menjadi dua yaitu investasi yang dilakukan swasta (penanaman modal asing (PMA)
dan penanaman modal dalam negeri (PMDN))
dan investasi yang dilakukan pemerintah. Investasi swasta mempunyai peranan penting untuk meningkatkan
perekonomian suatu wilayah melalui
penyerapan tenaga kerja pada wilayah tersebut. Akan tetapi, menurut Myrdal (1957) dalam Jhingan (2010)
mengungkapkan bahwa investasi akan
menyebabkan terjadinya ketimpangan. Provinsi Banten merupakan
daerah potensial yang menjadi sasaran
investasi yang dilakukan oleh swasta
Jawa Tengah
Kemiskinan
Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis
Kemiskinan) di Provinsi Jawa Tengah pada
September 2012 mencapai 4,863 juta orang (14,98 persen), berkurang 113,96 ribu
orang (0,36 persen) jika dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2012
yang sebesar 4,977 juta orang (15,34 persen).
Selama periode Maret 2012 – September 2012, penduduk miskin di daerah
perkotaan berkurang sekitar 54,61 ribu orang (dari 2.001,12 ribu orang pada
Maret 2012 menjadi 1.946,51 ribu orang pada September 2012), sementara di
daerah perdesaan berkurang 59,35 ribu orang (dari 2.976,25 ribu orang pada
Maret 2012 menjadi 2.916,90 ribu orang pada September 2012). Persentase penduduk miskin di daerah
perkotaan pada Maret 2012 sebesar 13,49 persen menurun menjadi 13,11 persen
pada September 2012. Begitu juga dengan penduduk miskin di daerah perdesaan
yaitu dari 16,89 persen pada Maret 2012 menjadi 16,55 persen pada September
2012. Garis Kemiskinan di Jawa Tengah
kondisi September 2012 sebesar Rp. 233.769,- per kapita per bulan. Untuk daerah
perkotaan Garis Kemiskinan September 2012 sebesar Rp. 245.817,- per kapita per
bulan atau naik 4,69 persen dari kondisi Maret 2012 (Rp. 234.799,- per kapita
perbulan). Garis Kemiskinan di perdesaan juga mengalami peningkatan sebesar
5,57 persen menjadi sebesar Rp. 223.622,- per kapita per bulan dibandingkan
dengan Maret 2012 yaitu sebesar Rp. 211.823,- per kapita per bulan.
Pengangguran
Jumlah Pengangguran Terbuka di Provinsi Jawa Tengah pada
tahun 2013 (Februari) mencapai 941.400 jiwa menurun dibanding tahun 2008
(1.227.308 orang) atau berkurang sebanyak 285.900 jiwa. Sementara untuk perkembangan Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT), TPT Provinsi Jawa Tengah tahun 2013 sebesar 5,57
persen lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya (5,63%), tingkat pengangguran
Jawa Tengah lebih rendah dibandingkan terhadap TPT nasional. Penyebaran TPT tahun 2012 terbesar di
Kabupaten Pati, yaitu sebesar 12,20 persen dan TPT terendah di Kabupaten
Purworejo (3,28 %)
Kesenjangan
Perkembangan tingkat kesenjangan ekonomi antarwilayah
(kabupaten/kota) menurut dispersion ratio untuk setiap provinsi di wilayah
Jawa+Bali dalam kurun waktu 2007-2011 . Tingkat kesenjangan paling tinggi yaitu
di Provinsi Jawa Timur, dan paling rendah di Provinsi Bali. Dilihat dari
perkembangan tingkat kesenjangan selama 2007-2011, terlihat tingkat kesenjangan
di Provinsi Jawa Tengah,meningkat
dibandingkan tahun sebelumnya, sementara tingkat kesenjangan di Provinsi Bali
dan Banten relatif menurun dari tahun sebelumnya.
Jawa Barat
Kemiskinan
Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis
Kemiskinan) di Jawa Barat pada bulan Maret 2013 sebesar 4.297.038 orang (9,52
persen). Dibandingkan dengan bulan September 2012 yang berjumlah 4.421..484
orang (9,89 persen), jumlah penduduk miskin bulan Maret 2013 mengalami
penurunan sebesar 124.446 orang (0,37 persen). Selama periode September 2012 –
Maret 2013, Jumlah penduduk miskin daerah perkotaan berkurang sekitar 59 000
orang (dari 2.560,02 ribu orang pada September 2012 menjadi 2.501 ribu orang pada Maret 2013). Sementara itu di
daerah pedesaan berkurang sekitar 65,4 ribu orang ( dari 1.861,46 ribu orang
pada September 2012 menjadi 1.796,04 ribu orang pada Maret 2013). Selama
periode September 2012 – Maret 2013 persentase penduduk miskin di perkotaan
juga mengalami penurunan sebesar 0.27 persen ( dari 8,71 % pada September 2012
menjadi 8.44 % pada Maret 2013) sedangkan di daerah perdesaan mengalami
penurunan sekitar 0.54 persen ( dari 12.13 % pada September 2012 menjadi
11,59%pada Maret 2013). Garis kemiskinan Jawa Barat bulan Maret 2013 sebesar
Rp. 252.496,- atau mengalami peningkatan sebesar 4,29 persen dibandingkan
dengan garis kemiskinan bulan September 2012 (Rp. 242.104,-).Jika dibedakan
antara daerah perkotaan dan pedesaan, di daerah perkotaan garis kemiskinan
bulan Maret 2013 sebesar Rp. 258.538,- atau naik 3,76persen dari kondisi
September 2012 (Rp. 249.170,-). Untuk daerah pedesaan, Garis kemiskinan mengalami peningkatan yang
lebih tinggi yaitu sekitar5,41 persen (dari Rp. 228.577,- pada September 2012
menjadi Rp. 240.945,- pada Maret 2013)
Pengangguran
Jawa barat saat ini menjadi provinsi yang paling besar jumlah
penduduk nya di indonesia . D emikina juga dari segi laju pertumbuhan ,
penduduk nya pun tergolong tinggi , karena tidak saja di sebabkan oleh
pertumbuhan alami , tetapi imigrasi dari luar provinsi yang masuk jawa barat
cuku besr peranan nya . Jumlah merekap mencapai
3.628.393 orang atau sebesar 25% dari angkatan kerja . Banyak nya menganggur dan setengah
menganggur adalah suatu penomenan ketenagakerjaan di jawa barat saat ini .
Kesenjangan
tingkat kesenjangan ekonomi antarwilayah (kabupaten/kota)
menurut dispersion ratio untuk setiap provinsi di wilayah Jawa barat dalam kurun waktu 2007-2011 . Tingkat
kesenjangan paling tinggi yaitu di Provinsi Jawa Timur, dan paling rendah di
Provinsi Bali. Dilihat dari perkembangan tingkat kesenjangan selama 2007-2011,
terlihat tingkat kesenjangan di Provinsi
jawa barat dan Jawa
Tengah,meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, sementara tingkat kesenjangan
di Provinsi Bali dan Banten relatif menurun dari tahun sebelumnya.
Jawa Timur
Kemiskinan
Pada bulan Maret 2012, Penduduk miskin Jawa Timur sebanyak
5,071 juta (13,40 persen) atau turun 5,53 persen dibandingkan dengan jumlah
penduduk miskin pada bulan Maret 2011 yang mencapai 5,356 juta jiwa (14,23
persen). Dalam kurun waktu setahun, persentase penduduk miskin terjadi
penurunan baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Penurunan sebesar 0,84
poin persen terjadi di perdesaan dari 18,19 persen di bulan Maret 2011 menjadi
17,35 persen di bulan Maret 2012. Untuk daerah perkotaan persentase penduduk
miskin berkurang 0,81 poin persen dari 9,87 persen menjadi 9,06 persen. Secara
aggregat penduduk miskin di Jawa Timur 67,84 persen diantaranya ada di daerah
perdesaan atau 3,44 juta penduduk. Garis
kemiskinan (GK) pada tahun 2012 sebesar Rp. 233.202 atau mengalami kenaikan
sebesar 6,13 persen dari tahun 2011. GK makanan pada tahun 2012 sebesar Rp.
171.375 dan non makanan sebesar Rp. 61.827. Angka ini mengalami peningkatan
sebesar 5,78 persen dan 7,13 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara
itu dekomposisi GK, terlihat persentase kenaikan GK perdesaan (7,73 persen)
lebih besar dari perkotaan (4,59 persen).
Pengangguran
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Timur pada Agustus
2013 mencapai 4,33persen, naik 0,21 persen dibanding TPT Agustus 2012 (4,12 persen).
Selama setahun (Agustus 2012-Agustus 2013) penduduk yang bekerja di sektor
PertanianPerkebunan, kehutanan, Perburuan dan Perikanan berkurang sebanyak 54
ribu orang (0,7persen), sektor Pertambangan dan Penggalian sebanyak 22 ribu
orang (15,38 persen), Listrikgas dan air sebanyak 2 ribu orang (6,4 persen) dan
sektor konstruksi
sebanyak 205 ribu orang(16,37 persen). Sektor perdagangan,
rumah makan dan jasa akomodasi, mengalampertambahan daya serap sebanyak 200
ribu orang (5,2 persen). Sektor jasa kemasyarakatansosial dan perorangan
meningkat sebanyak 345 ribu orang (13,83 persen). Sedangkan sektorlainnya
seperti transportasi, pergudangan dan komunikasi serta lembaga keuangan relatif
stabil. Pada Agustus 2013, dari 19,27 juta orang yang bekerja paling banyak
berpendidikan rendah SDke bawah, yaitu 10,26 juta orang (53,26 persen),
sedangkan pekerja dengan pendidikan tinggiDiploma ke atas hanya sekitar 1,36
juta orang (7,04 persen), selebihnya pendidikan menengah.
Kesenjangan
Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) dituntut mampu
mengatasi problem kesenjangan antardaerah seiring pertumbuhan ekonomi yang
diproyeksi bisa 8% dalam lima tahun mendatang. Pertumbuhan itu salah satunya
ditopang dengan potensi pembangunan 25 pabrik pemurnian mineral (smelter) di Jatim.
Saat ini, sudah ada dua pabrik pemurnian mineral di Gresik dan Tuban. Gubernur
Jawa Timur Soekarwo menilai proyeksi itu didasarkan sejumlah kondisi objektif,
semisal pasokan listrik surplus 4.000 MW. Selain itu pantai yang terbuka untuk
pelabuhan pengangkut mineral juga tersedia. Selain itu, sambungnya,
infrastruktur seperti rel ganda jalur utara selesai tahun ini. Sedangkan rel
ganda dari Solo-Surabaya selesai 2017. "Jadi kami optimistis pertumbuhan
ekonomi bisa 8% pada 2019, pemicunya industri, salah satunya smelter,"
jelasnya di sela-sela Musyawarah Rencana Pembangunan Daerah Jawa Timur
2014-2019, Kamis (6/3/2014). Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada 2013 6,5%
dengan pendapatan domestik regional bruto (PDRB) harga berlaku Rp1.136,33
triliun. Kontribusi Jatim terhadap pembentukan PDB nasional 15%. Wakil Ketua
DPRD Jawa Timur Sirmadji menilai kesenjangan ekonomi merupakan persoalan yang
harus diatasi pemerintah daerah seiring peningkatan ekonomi daerah. Indeks gini
yang menunjukkan kesenjangan pendapatan ditargetkan pemerintah 0,36% tapi
idealnya lebih rendah dari itu. "Kami melihat potensi bisa sampai
0,34%," tegasnya.
Kalimanta Barat
Kemiskinan
Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis
Kemiskinan) di Kalimantan Barat pada bulan September 2012 sekitar 355 ribu orang (7,96 persen). Dibandingkan
dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2012 yang berjumlah 363 ribu orang (8,17 persen), berarti berkurang
sekitar 7 ribu orang atau mengalami penurunan
0,20 persen. Selama periode Maret 2012–September 2012 penurunan
persentase penduduk miskin terjadi di daerah pedesaan dan perkotaan. Untuk
daerah pedesaan turun dari 9,11 persen
menjadi 9,04 persen sedangkan untuk daerah perkotaan juga mengalami penurunan
dari 5,98 persen menjadi 5,49 persen. Berarti selama satu semester terakhir
penurunan persentase penduduk miskin lebih besar terjadi di perkotaan. Namun,
dari sisi jumlah penduduk miskin, pada bulan September 2012 di daerah pedesaan masih lebih banyak sebesar
281 ribu orang dibanding di daerah perkotaan sebanyak 74 ribu orang. Garis kemiskinan pada Maret 2012 sebesar Rp.
226.175,- perkapita/bulan dan Rp. 239.162,- perkapita/bulan pada September
tahun 2012. Apabila dipilah menurut jenisnya, peranan komoditi makanan terhadap
Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan
(perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada bulan September 2012, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan
terhadap Garis Kemiskinan sebesar 79,03
persen dan selebihnya 20,97 persen adalah sumbangan Garis Kemiskinan
Bukan Makanan.
Pengangguran
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kalimantan Barat pada Februari 2013 mencapai 3,09 persen,
mengalami penurunan dibanding TPT Februari 2013 sebesar 0,27 persen
Setahun terakhir (Februari 2013―Februari 2013), sektor Manufacturing dan
Services mengalami kenaikan jumlah pekerja, kecuali Sektor Agriculture
mengalami penurunan jumlah pekerja sekitar
88 ribu jiwa. Pada Februari 2013, jumlah penduduk yang bekerja sebagai
buruh/karyawan sebesar 621.806 jiwa (28,84 persen), berusaha dibantu buruh
tidak tetap sebesar 467.550 jiwa (21,70 persen) dan berusaha sendiri
sejumlah 353.706 jiwa (16,41 persen)
Kesenjangan
Berdasarkan rasio panjang jalan dengan luas wilayah yang
mengindikasikan kerapatan jalan (Road Density) pada tahun 2010, kerapatan jalan
di wilayah Kalimantan sebesar 0,10 Km/Km², lebih tinggi dari kerapatan jalan
tingkat nasional sebesar 0,25 Km/Km². Kerapatan jalan antarprovinsi, tertinggi
terdapat di Provinsi Kalimantan Selatan
sebesar 0,28 Km/Km², dan terendah di provinsi Kalimantan Timur sebesar
0,06 Km/Km². Berdasarkan jumlah kendaraan roda-4 (mobil penumpang, Bus dan
truk) untuk setiap Km panjang jalan yang menunjukkan kerapatan kendaraan per
Km, Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan kerapatan tertinggi (43,32 unit/Km),
lebih tinggi dari kerapatan nasional (33,42 unit/Km). Kerapatan kendaraan
terendah berada di Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 22,48 unit/Km. Sementara itu, dilihat dari
sisi ketersediaan panjang jalan per jumlah penduduk yang ditunjukkan melalui
indikator panjang jalan per 1000
penduduk (Km/1000 orang), seluruh provinsi di wilayah Kalimantan berada di
atas.
Nusa Tenggara Barat
Kemiskinan
Jumlah penduduk miskin di Nusa Tenggara Timur pada bulan
Maret 2013 sebesar 993,56 ribu orang (20,03 persen), berkurang 6,73 ribu orang
dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2012 yang berjumlah 1.000,29
ribu orang (20,41 persen) dan berkurang sekitar 18,96 ribu orang dibandingkan
dengan penduduk miskin pada Maret 2012 yang berjumlah 1.012,52 ribu orang
(20,88 persen). Berdasarkan daerah
tempat tinggal, selama periode Maret’12 – Maret’13, persentase penduduk miskin
di daerah perkotaan maupun perdesaan mengalami penurunan dengan persentase
penurunan sebesar 0,68 persen untuk perkotaan dan 0,85 persen untuk perdesaan.
Penurunan ini juga terjadi pada periode September 2012-Maret 2013. Garis Kemiskinan pada September 2012 sebesar
Rp. 222.507,- perkapita/bulan naik
sebesar 6,26 persen menjadi Rp. 235.805,- perkapita/bulan pada Maret 2013.
Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar
dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan,
dan kesehatan). Pada Maret 2013, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap
Garis Kemiskinan sebesar 78,65 persen, tidak jauh berbeda dengan September 2012
yang sebesar 79,16 persen. Pada periode
September 2012-Maret 2013, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P) dan Indeks Keparahan
Kemiskinan (P) mengalami penurunan. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 3,466
pada September 2012 menjadi 3,393 pada Maret 2013. Demikian pula Indeks
Keparahan Kemiskinan turun dari 0,908 menjadi 0,875 pada periode yang sama.
Pengangguran
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Nusa Tenggara Barat
pada Agustus 2013 mencapai 5,38 persen, mengalami kenaikan dibanding TPT
Februari 2013 (5,37 persen) dan juga mengalami kenaikan dibandingkan dengan TPT
Agustus 2012 (5,26 persen). Pada Agustus
2013 sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Provinsi Nusa Tenggara
Barat adalah sektor Pertanian yaitu sebesar 45,02 persen, diikuti oleh sektor
Perdagangan, Hotel dan Restoran (Rumah Makan) sebesar 18,86 persen dan sektor
Jasa Sosial Kemasyarakatan dan Jasa Perorangan sebesar 15,73 persen, serta
sektor industri sebesar 8,06 persen. Berdasarkan jumlah jam kerja pada Agustus
2013, sebanyak 1.056.954 orang (53,33 persen) bekerja di atas 35 jam per
minggu, sedangkan penduduk bekerja dengan jumlah jam kerja kurang dari 15 jam
per minggu mencapai 227.012 orang (11,45 persen). Pada Agustus 2013, penduduk bekerja pada
jenjang pendidikan SD ke bawah masih tetap mendominasi yaitu sebanyak 1.110.204
orang (56,02 persen), sedangkan penduduk bekerja dengan pendidikan SMP dan
SMA/SMK masing-masing sebanyak 294.998 orang (14,89 persen) dan 371.138 orang
(18,73 persen). Sementara itu untuk penduduk yang bekerja dengan pendidikan
diploma/perguruan tinggi hanya sebanyak
205.502 orang (10,37 persen).
Kesenjangan
Ketersediaan infrastruktur telekomunikasi memiliki peran
penting dalam mendukung interaksi sosial dan ekonomi masyarakat. Sejalan dengan
perkembangan teknologi, disamping penggunaan Telepon Kabel juga telah marak
digunakan Telepon Seluler hingga sampai di perdesaan. Namun demikian,
distribusi infrastruktur telekomunikasi tersebut masih belum merata, sehingga
masih banyak desa-desa yang belum memperoleh pelayanan Telepon Kabel, atau
belum mampu menjangkau sinyal telepon seluler. Untuk mendukung jangkauan sinyal
telepon seluler tersebut, pada dasarnya dapat diindikasikan oleh adanya Base
Transceiver Station (BTS) atau Manara Telepon Seluler di sekitar wilayah
tersebut. Kesenjangan dalam penggunaan
ketersediaan infrastruktur telekomunikasi antar KBI dan KTI dapat dilihat dari
indikator jumlah desa/kelurahan yang terjangkau pelayanan telepon kabel, dan
penerimaan sinyal telepon genggam atau Hand Phone (HP). Pada tahun 2010,
Persentase desa/kelurahan yang ada di wilayah KBI telah mencapai 35 % .
Berdasarkan ketersediaan layanan telepon kabel dan kemampuan menerima sinyal
telepon Seluler antarprovinsi, layanan telepon kabel terbanyak adalah di NTB sebanyak 283
desa/kelurahan (26,1 persen). Berdasarkan desa/kelurahan yang menerima sinyal
telepon seluler dengan intensitas sinyal lemah sampai kuat sudah mencapai di atas
90 persen di seluruh provinsi, namun diantaranya terdapat (1.340
desa/kelurahan) atau 33,1 persen yang masih menerima sinyal lemah
Nusa Tenggara Timur
Kemiskinan
Jumlah penduduk miskin di Nusa Tenggara Timur pada bulan
Maret 2013 sebesar 993,56 ribu orang (20,03 persen), berkurang 6,73 ribu orang
dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2012 yang berjumlah 1.000,29
ribu orang (20,41 persen) dan berkurang sekitar 18,96 ribu orang dibandingkan
dengan penduduk miskin pada Maret 2012 yang berjumlah 1.012,52 ribu orang
(20,88 persen). Berdasarkan daerah
tempat tinggal, selama periode Maret’12 – Maret’13, persentase penduduk miskin
di daerah perkotaan maupun perdesaan mengalami penurunan dengan persentase
penurunan sebesar 0,68 persen untuk perkotaan dan 0,85 persen untuk perdesaan.
Penurunan ini juga terjadi pada periode September 2012-Maret 2013. Garis
Kemiskinan pada September 2012 sebesar Rp. 222.507,- perkapita/bulan naik sebesar 6,26 persen menjadi Rp.
235.805,- perkapita/bulan pada Maret 2013.
Pengangguran
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Nusa Tenggara Barat
pada Agustus 2013 mencapai 5,38 persen, mengalami kenaikan dibanding TPT
Februari 2013 (5,37 persen) dan juga mengalami kenaikan dibandingkan dengan TPT
Agustus 2012 (5,26 persen). Pada Agustus 2013 sektor yang paling banyak
menyerap tenaga kerja di Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah sektor Pertanian
yaitu sebesar 45,02 persen, diikuti oleh sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
(Rumah Makan) sebesar 18,86 persen dan sektor Jasa Sosial Kemasyarakatan dan
Jasa Perorangan sebesar 15,73 persen, serta sektor industri sebesar 8,06
persen. Berdasarkan jumlah jam kerja pada Agustus 2013, sebanyak 1.056.954
orang (53,33 persen) bekerja di atas 35 jam per minggu, sedangkan penduduk
bekerja dengan jumlah jam kerja kurang dari 15 jam per minggu mencapai 227.012
orang (11,45 persen). Pada Agustus 2013,
penduduk bekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah masih tetap mendominasi
yaitu sebanyak 1.110.204 orang (56,02 persen), sedangkan penduduk bekerja
dengan pendidikan SMP dan SMA/SMK masing-masing sebanyak 294.998 orang (14,89
persen) dan 371.138 orang (18,73 persen). Sementara itu untuk penduduk yang
bekerja dengan pendidikan diploma/perguruan tinggi hanya sebanyak 205.502 orang (10,37 persen)
Kesenjangan
di daerah perbatasan NTT sebagian besar mengalami kemiskinan.
Pada akhir Desember 2011 lalu saya sempat melakukan “napak tilas” melihat
langsung kondisi perbatasan antara Provinsi NTT dan Timor Leste. Saya
mendampingi beberapa orang Senator Indonesia yang melakukan pengawasan atas pelaksanaan
UU No. 43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara. Wilayah perbatasan adalah daerah
terluar dari wilayah negara, yang menurut UU No. 43 Tahun tentang Wilayah
Negara merupakan kawasan strategis dalam mewujudkan integritas wilayah negara,
sehingga perlu perhatian khusus. Bagi
Indonesia permasalahan perbatasan akan berkenaan dengan kedaulatan
(sovereignty), hak berdaulat (sovereign right), atau hak pengelolaan dan
pemanfaatan atas sumber kekayaan alam yang ada. Oleh karenanya persoalan batas
wilayah sangat penting untuk diperhatikan dan harus menjadi bagian integral
dari pembangunan nasional karena merupakan hal yang sensitif dan rentan konflik
antar kepentingan. Dalam permasalahan perbatasan ini, peran Pemerintah dan
Pemerintah Daerah adalah sangat penting terkait dengan pelaksanaan
fungsi-fungsi pemerintahan sesuai dengan amanat UUD 1945 dan prinsip otonomi
daerah menurut UU No. 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 38 Tahun
2007, serta aturan pelaksanaan dari UU No. 43 Tahun 2008 dalam mengelola
kawasan perbatasan sebagai salah satu persoalan bangsa yang belum tuntas hingga
saat ini.
Bali
Kemiskinan
Persentase penduduk miskin di Bali pada Maret 2013 sedikit
berkurang jika dibandingkan dengan Maret 2012. Tingkat kemiskinan pada Maret
2013 mencapai 3,95 persen, turun 0,23 persen dibandingkan kondisi Maret 2012
yang mencapai 4,18 persen. Jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2013
mencapai 162,51 ribu orang, dengan komposisi 96,35 ribu orang di daerah
perkotaan dan 66,17 ribu orang di daerah perdesaan. Garis kemiskinan Bali pada Maret 2013
mengalami peningkatan sebesar 8,94 persen, dari Rp 249.997,00 pada Maret 2012
menjadi Rp 272.349,00 pada Maret 2013. Garis kemiskinan di daerah perkotaan
maupun perdesaan mengalami peningkatan pada Maret 2012 – Maret 2013. Daerah
perkotaan mengalami peningkatan garis kemiskinan sebesar 8,18 persen, dan garis
kemiskinan di perdesaan mengalami peningkatan sebesar 10,25 persen.
Pengangguran
Jumlah angkatan kerja di Provinsi Bali pada Februari 2013
mencapai 2.396,37 ribu orang, bertambah sebanyak 80,34 ribu orang dibanding
angkatan kerja Agustus 2012 (2.316,03 ribu orang) atau bertambah sebanyak 88,82
ribu orang dibanding angkatan kerja Februari 2012 (2.307,55 ribu orang). Jumlah penduduk yang bekerja di Bali pada Februari
2013 mencapai 2.350,99 ribu orang, bertambah sebanyak 82,28 ribu orang
dibanding keadaan pada Agustus 2012 (2.268,71 ribu orang) atau bertambah
sebanyak 92,04 ribu orang dibanding keadaan Februari 2012 (2.258,95 ribu
orang). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Bali pada Februari 2013
mencapai 1,89 persen, mengalami penurunan dibanding TPT Agustus 2012 sebesar
2,04 persen dan TPT Februari 2012 sebesar 2,11 persen. Dalam setahun terakhir (Februari 2012 –
Februari 2013), hampir semua sektor pekerjaan di Bali mengalami kenaikan jumlah
pekerja, kecuali Sektor Pertanian, mengalami penurunan jumlah pekerja sebanyak
73,4 ribu orang (11,23 persen). Sementara itu, Sektor Keuangan mengalami
kenaikan tertinggi jumlah pekerja yaitu sebesar 24,59 persen (19,12 ribu
orang). Sektor Perdagangan, Pertanian, Jasa Kemasyarakatan, dan Sektor Industri
secara berurutan menjadi penampung terbesar tenaga kerja pada bulan Februari
2013 dengan kontribusi masing-masing sebesar 29,24 persen, 24,69 persen, 16,07
persen, dan 13,17 persen. Pada Februari
2013, jumlah penduduk yang bekerja sebagai buruh/karyawan sebanyak 910,77 ribu
orang (38,74 persen), berusaha dibantu buruh tidak tetap sebanyak 440,63 ribu
orang (18,74 persen) dan berusaha sendiri sejumlah 323,02 ribu orang (13,74
persen).
Kesenjangan
Sebagai provinsi yang berbentuk sebuah pulau,Bali menyimpan
banyak sekali sumber daya didalamnya. Oleh karena banyaknya sumber daya alam
maka akan berpengaruh kedalam Pendapatan Domestik Regional BrutoProvinsi Bali
juga merupakan provinsi yang mempunyai angka kemiskinan terkecil kedua setelah
Jakarta. Oleh karena itu provinsi Bali dipilih sebagai acuan provinsi-provinsi
lainnya dalam menerapkan kebijakan yang berpengaruh terhadap pemerataan
pendapatan. Dalam kaitannya dengan angka kemiskinan yang kecil pasti ada salah
satu sector didalam PDRB yang membantu membuat angka kemiskinan dan disparitas
pendapatan itu kecil.Untuk itu makalah ini akan membahas apakah peran sector
pertanian dalam membantu mengurangi kemiskinan dan disparitas adalah besar dan
apakah sector penggalian berperan besar didalam mengurangi angka disparitas di
Provinsi Bali.
Bengkulu
Kemiskinan
Pada bulan Sepetember 2013, jumlah penduduk miskin (penduduk
dengan pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan) sebesar
320,41 ribu orang (17,75 persen), berkurang 6,94 ribu orang (0,59 persen)
dibanding dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2013 yang berjumlah 327,35
ribu orang (18,34 persen). Selama
periode Maret 2013 – September 2013, persentase penduduk miskin di daerah
perkotaan mengalami peningkatan sedangkan di perdesaan tercatat mengalami penurunan.
Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2013 sebesar 16,64
persen, naik menjadi 17,29 persen pada September 2013. Sementara penduduk
miskin di daerah perdesaan menurun dari 19,10 persen pada Maret 2013
menjadi 17,97 persen pada September
2013. Peranan komoditi makanan terhadap
Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan
(perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan
Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada September 2013 tercatat sebesar 78,02
persen, kondisi ini sedikit peningkatan dibanding dengan kondisi Maret 2013
yang sebesar 78,01 persen. Komoditi
makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan
relatif sama dengan di perdesaan, diantaranya adalah beras, rokok kretek
filter, cabe merah, telur ayam ras, gula
pasir dan mie instan. Sedangkan, untuk komoditi bukan makanan diantaranya
adalah biaya perumahan, listrik,
pendidikan, bensin, dan pakaian jadi anak-anak. Pada periode Maret
2013-September 2013, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) meningkat, ini
mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin
menjauh dari Garis Kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran antar penduduk miskin
juga semakin melebar.
Pengangguran
Jumlah pengangguran terbuka pada Agustus 2013 sebanyak 39,9
ribu orang bertambah sebanyak 8,8 ribu orang dibandingkan dengan Agustus 2012
sebanyak 31,1 ribu orang atau naik sebesar 28,2 persen. Seiring bertambahnya
jumlah pengangguran, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada periode Agustus
2012 - Agustus 2013 naik dari 3,6 persen
menjadi 4,7 persen atau naik 1,1 persen.
Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan penyerapan penduduk yang
bekerja pada periode Agustus 2012 - Agustus 2013, yaitu: sektor Lembaga
Keuangan bertambah 4,4 ribu orang atau
naik 36,2 persen, sektor Pertambangan dan Pengalian bertambah
2,1 ribu orang atau nail 27,6
persen, dan sektor Jasa Kemasyarakatan bertambah 4,6 ribu orang atau naik 3,5
persen. Lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan penyerapan penduduk yang
bekerja, yaitu: sektor Industri berkurang 9,1 ribu orang atau turun 27 persen,
sektor Listrik, Gas dan Air Minum berkurang 346 orang atau turun 20,7 persen,
sektor Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi berkurang 3 ribu orang atau
turun 12,6 persen, sektor Konstruksi berkurang
3,7 ribu orang atau turun 9 persen, sektor Pertanian berkurang 19 ribu
orang atau turun 4,4 persen dan sektor Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa
Akomodasi berkurang 5 ribu orang atau turun 3,5 persen.
Kesenjangan
Terdapat kesenjangan antara kebijakan dan implementasi,
sehingga memengaruhi terwujudnya pembangunan kependudukan yang berkualitas dan
berkelanjutan. Kesenjangan itu meperlambat pencapaian pembangunan sektor
kependudukan yang berdasarkan sasaran Mellennium Development Goals (MDGs) dan
RPJMN/D. Penilaian demikian itu terungkap dalam materi pertemuan diseminasi
analisis hasil SDKI 2012 lintas sektor di Provinsi Bengkulu yang disampaikan
Kepala Bappeda provinsi setempat, Edi Waluyo belum lama ini. Delapan sasaran
Tujuan Pembangunan Milenium , Millennium Development Goals yakni memberantas
kemiskinan, Mewujudkan pendidikan dasar untuk semua, Mendorong kesetaraan
gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, Meningkatkan
kesehatan ibu hamil, Memerangi penyakit HIV/Aids/ Malaria/ TBC, Memastikan
kelestarian lingkungan dan Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.
Dengan adanya pandangan masih terjadi kesenjangan kebijakan dan implementasi
itu menyebabkan beberapa indikator penting pembangunan kependudukan belum
memebrikan kontribusi dalam upaya peningkatan kualitas SDM di daerah.
Solusi Kemiskinan
1. manambah anggaran di desa – desa
2. memberikan penyuluhan kepada penduduk desa agar memepunyai
keterampilan
3. mengembangkan kreativitas anak sekolah yang ada di desa
desa
4. pemerintah
memberikan fasilitas fasilitas yang layak
5. dan memanfaat kan SDM desa untuk menambah perekonomian keluarga
Solusi Pengangguran
1. membuka lapangan kerja seluas luas nya
2. merubah pola fikir masyarakat yang notabene nya
cepatamenyerah atau hidup pasrah
3. meberikan pelatihan agar bisa pada saat praktek dilapangan
4. mensejahterakan hak asasi manusia di desa – desa
5. mengembangkan usaha usaha produksi masyarakat yang ada di
desa
Solusia kesenjangan
1. perlu dibangunnya infrastruktur di desa desa , khusus nya
desa – desa plosok
2. pemeberian dana kepada desa – desa yang perekonomian nya
rendah seperti koperasi
3. membangun fasilitas LSM untuk melatih orang orang desa
agar mempunyai keterampilan dan bisa memproduksi SDm yang ada di desa tersebut
.
Daftar Pustaka
Kemiskinan
http://banten.bps.go.id/data/brs/file/1404_miskin_020114.pdf
http://simreg.bappenas.go.id/Profil/Profil%20Pembangunan%20Provinsi%203100DKI%202013.Pdf
http://jabar.bps.go.id/system/files_force/publikasi/BRS%20kemisinan%20Maret%202013.pdf?download=1
http://simreg.bappenas.go.id/Profil/Profil%20Pembangunan%20Provinsi%203300JaTeng.Pdf
http://tabloidsergap.files.wordpress.com/2012/07/profil-kemiskinan-di-jawa-timur-2012.pdf
http://kalbar.bps.go.id/doc/pdf/brs/Kemiskinan/2013/Kemiskinan%20Kalbar%202012%20BRS%20Januari%20%202013.pdf
http://ntt.bps.go.id/jdownloads/Berita%20Resmi%20Statistik/Profil%20Kemiskinan/brs_kemiskinan_provinsi_ntt_rilis_1_juli_2013.pdf
http://ntb.bps.go.id/data_uploads/brs/brs-2013-01-02-kemiskinan.pdf
http://bengkulu.bps.go.id/pubstat/2014/BRS/01/1401%20miskin.pdf
http://bali.bps.go.id/brs/miskin/brs_miskin_07_2013.pdf
Pengangguran
http://litbang.tangerangkota.go.id/uploads/publikasi_statistik/ddd4b7e854a4dd911051a599238ee644.pdf
http://simreg.bappenas.go.id/Profil/Profil%20Pembangunan%20Provinsi%203100DKI%202013.Pdf
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/195505051986011-WAHYU_ERIDIANA/artikel_pengangguran.pdf
http://jatim.bps.go.id/data/brs/file/2013%2011%20BRS%20TENAGA%20KERJA.pdf
http://kalbar.bps.go.id/doc/pdf/brs/Naker/2013/03%20Tenaga%20Kerja%20Februari%202013%20BRS%20Mei%202013.pdf
http://ntb.bps.go.id/data_uploads/brs/brs-2013-11-06-tenaga-kerja.pdf
http://ntb.bps.go.id/data_uploads/brs/brs-2013-11-06-tenaga-kerja.pdf
http://bali.bps.go.id/brs/naker/brs_naker_05_2013.pdf
http://bengkulu.bps.go.id/pubstat/2013/BRS/1311/_1311%20TK.pdf
kesenjangan
http://eprints.undip.ac.id/38984/1/DHYATMIKA.pdf
http://eprints.undip.ac.id/22955/1/Yuki_Angelia_Skripsi.pdf
http://simreg.bappenas.go.id/Publikasi/DokPub/Analisis%20Kesenjangan%20sosial2013.pdf
http://simreg.bappenas.go.id/Publikasi/DokPub/Analisis%20Kesenjangan%20sosial2013.pdf
http://surabaya.bisnis.com/read/20140306/11/68864/ada-kesenjangan-antardaerah-soekarwo-tetap-optimistis-ini-alasannya
http://simreg.bappenas.go.id/Publikasi/DokPub/Analisis%20Kesenjangan%20sosial2013.pdf
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/135518-T%2027958-Analisis%20kesenjangan-Tinjauan%20literatur.pdf
http://aufadirgahayu.blogspot.com/2013/06/ketimpangan-di-provinsi-bali.html
http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/226271-1168333550999/PERHBAB7DesentralisasiFiskalKesenjanganDaerah.pdf
http://simreg.bappenas.go.id/Publikasi/DokPub/Analisis%20Kesenjangan%20sosial2013.pdf